Tuesday, October 2, 2012

Mengapa (Saya) Tidak Menikah Muda

*ditulis oleh @annisast yang nebeng postingan alias posting tebengan di blog pacar



*disclaimer: saya ga terima argumen atas nama agama. Karena ketika membawa agama semuanya jadi harus benar. Ini argumen di luar agama. Peace. :p



Topik ini tiba-tiba muncul setelah kakang @ariebrews nge-tweet soal nikah dan masa produktif. Katanya kalau nikah lebih dari usia 25 nanti waktu anaknya gede, kita udah ga produktif. Saya bilang, alasan itu ga relevan karena pada kenyataannya ada alasan untuk tidak menikah muda. Setelah disamber neng @yosiputri, mending di-share aja kali ya, alasan kenapa (saya) tidak menikah muda.



Saya awalnya bukan ga mau nikah muda. Malah awal tahun ini ngotot bgt ingin nikah tahun 2012. Alasannya karena tahun ini saya 24 dan ingin nikah sebelum 25. Tapi selalu ditolak oleh ayah dan ibu. Awalnya ngambek, heran kenapa sih mereka jadi weird parents. Secara ortu lain mah maksa dan nanya-nanya kapan anaknya nikah, ini saya seumur hidup boro-boro ditanya, udah pengen nikah malah dilarang. Haha..



Ibu sih mellow ya, semacam belum rela liat anaknya nikah. Si ayah nih yang alasannya logis: “Kamu ga sayang gitu sama karier kamu? Kamu kan lagi seru-serunya kerja, kalau nikah susah. Apalagi kamu yang ngotot kalau punya anak pengen urus sendiri.” Setelah kalimat itu, jawaban “TAPI AKU PENGEN NIKAH AYAH!” ga jadi keluar. Karena emang bener, saya dan pacar kalau nikah ingin cepet punya anak dan ingin diurus sendiri.



Kenapa menikah?
Kalian yang sekarang ngebet pengen nikah, tanya dulu sama diri sendiri: “kenapa sih mau nikah?”. Yang paling mantep sih karena ‘ibadah’, yang ini ga akan dibahas ya karena udah disclaimer dari awal ga akan bawa-bawa agama. Silakan kalau alasannya ini kemudian ngebet pengen nikah.



Atau pengen nikah karena sirik doang kali karena temen satu angkatan sebagian besar udah pada nikah. Sirik kan kodrat manusia jadi ya wajar. Tapi yang paling aneh (menurut saya) ngebet nikah karena alasannya adalah: “ya mau apalagi sih? Kerja udah tetap, tabungan ada, tinggal nikah!”



Wah, kalau yang ini saya ga setuju. Karena sebetulnya banyak hal yang bisa dilakukan sebelum menikah. Ada yang mau punya rumah dulu, main-main dan ngelakuin hobi dulu, keliling dunia dulu, buanyak, terserah. Buat saya pribadi sebenarnya cuma dua, kerja dan travelling.



Yang pertama, kerja. Kerjaan kaya saya sekarang super menyenangkan dan bikin iri banyak orang karena banyak ketemu artis Korea yang katanya susah ditemui (kata siapa? Saya gampang XD *songong*) tapi risikonya menyita waktu sangat banyak. Pergi jam 10 pagi pulang suka-suka. Sebulan sekali atau dua kali nonton konser pulang pagi. Setahun bisa 5 kali ke luar negeri buat nonton konser juga. Kalau nikah terus hamil dan punya anak piye? Suami dijamin ga akan ngizinin istri hamil jingkrak-jingkrak nonton konser dan saya ga akan tega tinggal-tinggalin anak demi konser. Puhlease.



Yang kedua travelling. Setelah dua kali jalan-jalan gila ke singapura sama si pacar, travelling ini super tempting dan bikin mikir beberapa kali untuk cepet nikah. Alasannya sama, bok, kalau hamil terus punya bayi, bisa gitu travelling? Sementara dunia masih luas, saya masih pengen jalan-jalan ke negara-negara lain tanpa harus mikirin anak. Lagipula kalau udah ada anak, prioritas pasti anak. Kapan atuh bisa keliling Eropa-nya? Yang bilang “travelling aja kali, anaknya dibawa”. Yakali saya mah travelling ga mau yang mahal-mahal, mau bawa-bawa backpack nginep di hotel murah, jalan kaki ke mana-mana, tega bawa anak? Kalau tega juga ribet, saya orangnya praktis. :p



Jadi setelah memikirkan dua hal itu, jadilah saya (dan pacar) kebut bikin jadwal travelling secepat-cepatnya sebelum orangtua berubah pikiran dan nyuruh nikah. Nabung nikah mah pasti, ada tiket pesawat murah mah pake aja dulu. Nikah belum ada tanggal, travelling bisa jalan terus.



Buat yang bilang: “nikah itu bahagianya luar biasa” Yang ini saya yakin ko, ga akan saya bantah. Ya tapi jangan paksa saya nikah dengan alasan biar saya lebih bahagia. Ga mau serakah ah, hidup saya sekarang juga super bahagia ko. Kalau nanti nikah dan tambah bahagia, ya rezeki. :)



Buat sebagian orang, menikah mungkin sebuah pencapaian. Seperti cita-cita tercapai, doa terkabul. Wajar kalau mereka bangga bisa menikah muda karena ga semua orang bisa. Saya juga seneng ko lihat orang-orang yang nikah muda dan bahagia. Tapi buat saya, pencapaian saya pribadi yang paling besar sepertinya bukan menikah.



Menikah sebagai pencapaian
Buat saya, pencapaian saya yang buat saya bangga adalah bukan menikah tapi bikin orangtua bangga. Senangnya denger ayah bilang bangga sama saya di depan keluarga si pacar karena di umur saya yang belum 24, saya udah sering sekali diundang liputan ke luar negeri. Senangnya denger ibu saya cerita ke temen-temennya kalau saya bisa ketemu artis-artis Korea yang jadi idola anak-anak temennya. Senang bikin iri semua orang karena tinggal sebut nama artisnya, lebih banyak yang sudah saya temui dibanding yang belum. *kembali songong*



Apa saya rela melepaskan semua kebanggaan itu demi menikah? Kalau saya menikah, belum tentu orangtua sebangga itu.



Usia menikah vs usia anak
Di Indonesia usia perempuan menikah itu 20-25 tahun, 25 tahun belum nikah jadi bahan omongan. Tapi di negara maju ternyata usia menikah di atas itu. Rata-rata perempuan di negara maju seperti Korea Selatan menikah di atas usia 29 tahun (bisa di cek daftarnya di wikipedia). Mereka tidak mau merelakan usia produktif untuk menikah.



Nanti gimana, anak masih butuh uang banyak usia kita udah ga produktif? Hey, ngakunya manusia modern ko pikirannya konservatif? Investasi atuh. Sejak hamil investasi untuk pendidikan anak, investasi untuk dana pensiun, kalau semuanya udah terrencana, ga akan ada masalah kekurangan uang karena lepas usia produktif.



Sudah jelas? Jadi mau menikah muda atau ditunda untuk mencapai cita-cita? :)

2 comments:

  1. ternyata tulisan ini sudah lama dan sy baru menemukannya.
    *semakin mendapat pencerahan*

    sy pernah baca di suatu blog, yg menceritakan bahwa dia dan suaminya hobi traveling ala backpacker. dan anaknya (umurnya kira2 3 tahun) juga diajak backpacker-an. kalau memang mau pasti bisa deh backpacker-an bawa anak ^^

    p.s: sy mau juga dong kerja di tempat yg bisa ketemu artis2 korea hihihi

    ReplyDelete