Monday, November 18, 2013

Fase Jatuh Cinta dengan Motor

Papah dengan motornya setelah 30 tahun lebih

Tiap orang punya panggilan berbeda sama ayahnya, ada yang papih, dad, appa (sunda), apih (sunda juga), bapak, papah, dll. Saya sendiri entah kenapa manggil papah ke ayah sayah. Papah ituh orang Tegal asli keturunan China, dari foto foto zaman dulunya ayah sayah sudah terlihat sipit dan putih. Iyah terlihat putih walopun fotonya hitam putih.

Di awal tahun 80an si papah pergi ke bandung untuk tes pegawai negeri. Papah tes CPNS melawan 8000 peserta lainnya. Kemudian menyusut menjadi 500 -> 120 -> 15 -> 8 orang, itu cerita yang saya ingat. Saya mengerti kenapa papah berhasil melewati serangkaian tes CPNS hingga akhirnya berhasil menjadi seorang PNS di bandung, karena papah berasal dari 'daerah' bukan dari kota besar yang secara semangat pastinya 4-10 kali lipat dari orang bandung sendiri. Tanpa ada saudara ataupun tumpuan hidup di bandung membuat papah harus benar benar serius menghadapi hidup.

Waktu tes cpns itu papah udah punya motor. Pada tahun itu motor papah mungkin paling kerenlah. Tangki model peanut dan list putih lonjong mengikuti lekuk sampingnya, juga ada lambang garputala dengan emblem 3D YAMAHA. Iyah itu motor si papah, ditambah dengan sebuah informasi model motornya RS-100 berada di boks penutup aki kiri dan kanan. Merah menyala yang jika orang melihatnya terkagum kagum karena rem depannya sudah menggunakan teknologi rem cakram.

Tahun 80an kendaraan yang menggunakan rem cakram termasuk langka, karena saat itu dirasakan rem tromol masih bisa menghentikan kendaraan yang maksimal kecepatan rata-rata di bawah 80Kpj (KM per jam). Motor si papah spesial, motor tahun 80an yang sudah bisa tembus di atas 100Kpj, iyah, itulah kenapa menggunakan rem cakram di depannya.

Motor itu setia. Dari papah belum kenal mamah, menikah, sampai teteh dan saya lahir, motor itu masih tetap setia. Setiap tahun papah mengantarkan sayah mengambil beasiswa dengan motor RS-100-nya, saya termasuk anak yang pintar … saat SD. Ranking 1 saya dapatkan semenjak SD kelas 3 hingga 6. Jadi setaun sekali sudah pastilah saya mengambil beasiswa dengan anak-anak pintar pegawai pegawai ITB. Papah kerja di politeknik ITB, sejak tahun 2000 hingga sekarang namanya jadi politeknik Bandung.

Jadi naik motor sudah menjadi aktivitas setiap hari sejak saya kecil, papah membawa saya ke mana-mana dengan RS-100-nya. Di antaranya:
  • Anterin ke TK 
  • Ambil rapot pas SD 
  • Belanja ke pasar 
  • Maen ke taman bermain 
  • Daftar ulang di SMP favorit (SMPN 12 Bandung) 
  • Daftar les di bimbel murah meriah Ganesha favorit 
  • Dan banyak lagiii….. 
Jadi bagaimana tidak saya tidak jatuh cinta dengan motor. Sejak dalam kandungan mamah, papah sudah bawa-bawa saya naik motor. Mungkin itu sebabnya saya jatuh cinta dengan motor. Diawali dengan perjalanan hidup dengan motor bersama papah tercinta

Sampai sekarang punya banyak angan-angan untuk punya motor sport dengan silinder lebih dari 2, Vespa tahun 60an, juga punya bengkel motor sendiri yang dikelola berdua bareng si papah. Well, roda dan rantai masih berputar. Sekarang dan besok gas masih harus terus dibejek. Sampe sekarang untuk memenuhi hasrat tentang motor adalah membaca tabloid dan majalah motor. Semoga tulisan tentang motor ini dan selanjutnya bisa lebih memenuhi hasrat sayah, bukan sekedar absorb (membaca) tapi juga share.

Write more share more. :)

No comments:

Post a Comment