Monday, November 25, 2013

Cinta Pertama SMA (Dina Andriani)

Di-follow sama cinta pertama di SMA .... Jadi keingetan novel dilannya @pidibaiq :D

Terkenang perempuan di tahun 2001 ... waktu itu dia tersenyum, senyumnya manis banget. Bukan, bukan senyum pada sayah, dia memang murah senyum sama setiap orang.

Mukanya oval, matanya sipit, lucu. Kulitnya putih dengan rambut panjang yang diikat seperti ekor kuda. Pakaian seragam sekolahnya pun tak pernah dimodifikasi agar atasannya lebih ketat ataupun roknya dibuat lebih pendek. Jalannya unik, entah kenapa ga mau mengangkat kaki. Sepatunya seperti mengamplas jalanan, membuatnya harus beli sepatu lebih sering dari siswi lainnya (mungkin :p)

Dia kelas 1-6, sebenernya bersebelahan dengan ruangan kelas sayah. Tapi lantainya beda. Dia di lantai 1, saya di lantai 2. Bersebelahan tapi membentuk diagonal bukan garis horizontal.

Jadi jika berniat untuk melihat dia atau hanya melihat daun pintu kelasnya saya harus berjalan ke kelas di seberang, dan melihat ke bawah. Ke kelasnya, melihatnya di balik kotak jendela.

Masa SMA katanya masa yang berapi-api, berapi karena letusan gunung hormon mendekati umur 17-an kala seseorang mencari jati diri. Jati diri akan cinta, hobi, juga berbagai macam seni didalami. Sayah tak tahu apa passion saya sendiri. Ketika itu masa SMA hanya diisi oleh pergi ke sekolah dan balik ke rumah.

Tak ada yang sangat spesial masa SMA sayah saat kelas 1, yang paling saya ingat hanya 2 hal yang cukup spesial. Yang pertama sekolah kami ketika siang dipakai bersama dengan Sekolah Dasar, maen bola bersama anak-anak SD yang itu menyenangkan.

Yang kedua perempuan sipit itu, Dina Andriani namanya. Jika sekarang membaca namanya jelas terlihat bahwa nama dia berarti agama 'Din'a. Kalau dahulu saya mengartikannya kuat, entah kenapa wanita yang mempunyai nama 'Andrian'i itu artinya kuat. Ah sebenarnya saya tidak peduli dengan arti namanya. Yang jelas dia itu spesial.

Informasi yang terkumpul semakin berkembang, rumah dia di Cibaduyut. Namun sia-sia sajah tau rumahnya atau pun alamat lengkapnya, sayah tidak cukup berani ambil risiko diusir atau cukup punya nyali untuk melewati rumahnya. Risiko yang sangat besar, karena sayah tidak tahu jalan-jalan di bandung. Tau jalan pasir kaliki saja saat sekolah di SMA 6. Paling jauh sayah pergi saat itu, yah ke SMAN 6 ini. Juga bukan hal yang baik kalo udah nyampe rumahnya tapi ternyata harus dimaki ibunya karena ada cowo tonggos ngetuk rumah dan nanyain anaknya yg putih rupawan untuk diajak obrol ga jelas.

Ya kali sekarang ajah sayah culun gini, apalagi 12 tahun yang lalu... *jadi senyum sendiri kalo inget ini sudah lewat 12 tahun*

Ada informasi lagi, katanya Dina ini punya pacar. Anak gengster Bandung Selatan *nelen ludah*. Pernah sayah melihat dari sela-sela pintu gerbang sekolah yang terbuka Dina dijemput naik motor. Sayah manyun, manyun ga jelas. Iyah sih ngapain manyun, kenal juga engga. Kalo tau dia punya pacar gengster saya pasti ga akan berani manggil namanya sambil pura-pura ngelewat jajan di kantin. Pengennya sih elegan, bayarin dia makan. Apadaya uang jajan seribu saat itu beli mie goreng buat sendiri saja ga cukup :(

Selain nyapa dia di kantin, momen yang paling saya tunggu itu sebelum masuk sekolah. Saya biasanya duduk di dekat tangga mushola, tepatnya di depan mading (majalah dinding) yang memanjang bak pemisah antara lorong kelas dengan jalannya orang keluar dari kantin. Mushola kami ada di lantai 3, jadi cukuplah saya melihat Dina untuk beberapa saat dari ambil wudhu hingga menghilang di pintu mushola. Dina biasanya bersama teman dekat dan teman sebangkunya, Sofi. Di masa depan sempat juga saya jatuh cinta pada Sofi (terlalu banyak jatuh cinta nih sayah).

Kembali ke cerita shalat, Dina sehabis wudhu selalu mengusap wajahnya karena basah dan matanya memicing agar bisa fokus mencari sendal atau sekedar mencari pegangan. Dina minus matanya, setiap melihat adegan itu sayah jadi seperti ingin memberi tahu di mana letak sendal dia atau sekedar mengingatkan' ati ati licin'. Tapi ... ga saya lakuin :( (takut, takut ajah ga tau takut apa apa). Yang pernah jatuh cinta pasti tau rasanya. Rasanya menjadi tolol dan menjadi batu.

Kalau dari lantai 2 sayah melihat Dina sedang berjalan menyebrangi lapangan basket (sebenernya setengah lap. basket, karena sekolah kami kecil) untuk ke kelasnya, saya suka berteriak 'DINAAA', kemudian sembunyi takut dia ngeliat. Anjir. Tapi kalo harus berpapasan langsug dengan Dina, sayah langsung cuman bisa diam dan ga ngeliat dia sedikit pun. Mungkin sayah ini adalah sejenis manusia yang berani maen jauh atau sebenernya pengecut. Jadi sahih kalau sayah dipanggil pengecut saat itu (hingga 2 tahun ke depan dari hari di mana sayah jatuh cinta sama Dina)

Dipikir-pikir sejak jatuh cinta sama Di(n)a saya jadi punya banyak kebiasaan, selain merhatiin dia wudhu, juga merhatiin dia pas jam istirahat dari lantai 2. Melihat Dina makan batagor di depan kelasnya sambil mengobrol dengan teman-temannya membuat saya ikut terbawa suasana dan merasa ikut mengobrol dengannya. Mencoba menerka-nerka apa yang sedang diobrolkan dengan melihat gerakan mulut. Sebelum atau sesudah masuk kelas menjadi kebiasaanya berkaca sebentar di cermin depan kelasnya. Cukup unik cermin ini, hanya ada di depan kelasnya Dina, makanya tak heran kalau Dina cantik sepanjang hari. Ya itu tadi karena cermin yang ada di depan kelasnya yang bikin dia selalu mengecek tampilannya.

Kantin bisa dikatakan menjadi ajang riset, apa makanan kesukaanya dan bisa curi dengar apa saja yang mereka bicarakan.

Nah...kalo kepedesan makan mie, perempuan yang berdarah Tionghoa ini menjadi tambah cantik. Pipinya yang putih menjadi merah merona seperti menggunakan blush on. Juga bibirnya pun menjadi merah dan tampak tebal. Dalam hati saya berkata 'Cepetan minum' :(

Cepat atau lambat pasti Dina juga tahu kalau saya suka padanya. Dan akhirnya Dina tahu, karena Dicky yang tetanggaan dan musuh dari kecil sayah selalu mengejek saya yang jatuh cinta sama Dina. Dicky ini musuh yang kemudian jadi sahabat baik sayah Dan untunya Dicky sekelas dengan Dina. Menjadi keuntungan juga untuk saya sebenarnya, karena saya bisa mendapatkan informasi tentang statusnya juga bagaimana kesehariannya. Tapi namanya juga temen yang bro banget, ujungnya-ujungnya mah informasi tentang Dina ga dapet malahan maen game di rumahnya sampe dini hari tiap weekend.

Masa pertengahan sekolah sudah lewat, anak-anak mading bikin bewara bagi siapa saja baik kelas 1, 2 atau pun 3 yang mau mengirimkan karya sastranya bisa dipajang di majalah dinding sekolah. Membaca pengumuman itu saya merasa terpanggil, merasa bahwa passion saya adalah menulis puisi, merasa adalah ini saatnya. Saatnya menunjukan pada sekolah dan terutama Dina kalau cinta ini tulus, ikhlas dan mampu menjawab semua dari pertanyaan hati (iyah iyah...)

Saya menuliskan sebuah puisi untuk berpartisipasi dalam acara karya sastra sekolah ini, sebuah puisi dari hati untuk Dina. Puisi yang indah menurut sayah, saya tuliskan 3 bait puisi. Saya lupa bagaimana bunyi puisi itu. Yang saya ingat hanya ada sebuah nama dalam puisi itu 'Dina Andriani'.

Puisi yang saya tulis ternyata dipajang di mading. OMG, beneran dipajang. Persis di mading paling kanan, ada 4 dinding (kalau tidak salah) yang berjajar mulai dari pintu keluar kantin. Puisi saya ada di paling ujung, tak jauh dari tempat sayah biasa diam untuk melihat Dina shalat. Entah apa yang Dina rasakan saat itu melihat namanya tertera di mading dan menjadi bagian bait puisi. Bahagia atau malah merasa saya itu 'freak'. Pedulilah ini atas nama cinta, cinta monyet atau apalah orang orang menyebutnya. Tapi saya jatuh cinta kepada Dina. Dina tak pernah berkomentar dengan puisi itu. Setelah puisi itu, aku merasa makin jauh dengan Dina.

Teori tentang perempuan-perempuan SMA senang dengan anak bad boy itu benar adanya. Setelah kelas 2 Dina berpacaran dengan teman kelas sayah, seorang lelaki plontos yang badannya tidak terlalu tinggi namun punya badan yang kuat. Cowok itu yang suka merokok di belokan jalan besar jika keluar belok kanan dari gerbang sekolah. Cowok yang sepedanya sajah lebih mahal dari motor tua sayah. Well, memang harus seperi itu menjadi perempuan. Mencari pasangan yang 'kuat', agar mereka bisa merasa aman.

Begitulah cerita pendek tentang cinta pertama di SMA. Berjalannya waktu, Dina beberapa kali ganti pacar juga pernah putus nyambung dan akhirnya stick pada satu pacar hingga lulus sekolah.

Tahun demi tahun hingga sayah kelas 3, puisi Dina itu masih menempel di mading. Apakah puisi itu terlalu bagus atau entahlah? Bukan saya tidak berani menyatakan dan mempertanyakan perasan Dina kepada sayah, sayah sempat "nembak" di penghujung kelas 2.

Jawaban Dina sangat misterius 'lihat ajah judul lagu cokelat', saat itu cokelat sedang ngehits dengan album barunya. Saya langsung saja mencari tahu judul-judulnya lagu cokelat. Saya mencari tahu kepada kakak saya yang pecinta cokelat. Akhirnya diketahui bahwa albumnya adalah Rasa Baru dengan judul lagu berikut

Dia
Karma
Jauh
Luka Lama
Teman Saja
Gossip
Temani Aku
Langit Biru
Hilang
Masa Muda

Jadi jawaban dari Dina itu yang mana? Saya berharap bahwa jawaban dia adalah judul yang 'Temani Aku'.

Keesokan harinya saya bertanya kembali tentang jawaban atas pernyataan cinta saya. Seperti sudah diduga, Dina menjawab tanpa ada jeda sedikit pun bahwa judul lagu yang ia maksud adalah 'Teman Saja'.
...

...

...

Sakit hati, badan lemes sejadi-jadinya, hanya bisa tersenyum dengan (di)manis(maniskan) dan menjawab 'Oh...'. Dunia ini ga adil, kenapa saya tidak menjadi seorang badboy dan berani bergabung menjadi anggota gengster. Si pengecut ini hanya bisa meratapi dan mengobati perasaan sendiri dengan ... diam. Dada terasa berat beberapa hari ke depan kala ingat kejadian itu. LIFE.....

Saya menutup semua perasaan ke Dina serapat mungkin, semenjak itu sayah tahu kualitas saya di mana. Masuk ke kelas 3, ternyata Dina sekelas dengan sayah di 3 IPA 4. Semuanya sudah berubah, saya menjadi teman baiknya Dina. Tidak ada lagi kata-kata cinta untuk Dina. Walaupun sebenarnya puisi di mading yang tidak pernah dicabut oleh tim mading itulah yang mewakili perasaan saya selama 3 tahun itu.

-Untuk Dina Andriani-

No comments:

Post a Comment